Kebakaran Hutan Kalimantan Tak Kunjung Padam, Lahan Gambut dan Kemarau Jadi Tantangan Besar

sehato.id - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan kembali menjadi perhatian pada Oktober 2026. Kebakaran yang terus terjadi tidak hanya mengancam kelestarian hutan, tetapi juga menimbulkan kabut asap, mengganggu aktivitas masyarakat, serta merusak ekosistem yang membutuhkan waktu sangat lama untuk pulih. Kondisi ini memperlihatkan bahwa penanganan karhutla tidak cukup hanya mengandalkan pemadaman ketika api sudah meluas.

Dalam pemberitaan Universitas Gadjah Mada (UGM), pakar kebakaran hutan dan lahan menjelaskan bahwa kemarau panjang yang berkaitan dengan fenomena El Niño dan minimnya curah hujan membuat vegetasi serta lahan gambut semakin rentan terbakar. Sementara itu, laporan DW Indonesia menyoroti pentingnya menjaga kelembapan gambut, memperkuat keterlibatan masyarakat, dan memperbaiki tata kelola lahan sebagai bagian dari solusi jangka panjang.

Kedua persoalan tersebut menunjukkan bahwa kebakaran di Kalimantan merupakan tantangan lingkungan yang membutuhkan pendekatan menyeluruh, mulai dari pencegahan, pemadaman, hingga pemulihan ekosistem.


Karhutla di Kalimantan dan Faktor Penyebabnya

Kalimantan memiliki kawasan hutan tropis dan lahan gambut yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Namun, ketika musim kemarau berlangsung panjang, kondisi lahan dapat berubah menjadi lebih kering sehingga risiko kebakaran meningkat.

1. Kemarau Panjang dan Fenomena El Niño

Menurut pakar Fakultas Kehutanan UGM, Fiqri Ardiansyah, periode El Niño dan curah hujan yang sangat rendah menyebabkan kelembapan bahan bakar alami menurun. Vegetasi kering dan material organik menjadi lebih mudah terbakar ketika terkena sumber panas.

Kondisi ini semakin berisiko ketika musim kemarau berlangsung dalam waktu lama. Tanpa pasokan air yang memadai, lahan kehilangan kemampuan untuk mempertahankan kelembapannya sehingga kebakaran lebih mudah berkembang.

Meski demikian, kekeringan bukan satu-satunya penyebab munculnya api. Kebakaran tetap membutuhkan sumber penyulutan, seperti api dari aktivitas manusia, yang kemudian berinteraksi dengan bahan bakar dan oksigen.

2. Karakteristik Lahan Gambut yang Sulit Dipadamkan

Lahan gambut terbentuk dari akumulasi material organik yang mengalami penguraian secara lambat selama waktu yang sangat panjang. Ekosistem ini menyimpan air dan karbon dalam jumlah besar sehingga memiliki fungsi penting bagi lingkungan.

Akan tetapi, ketika gambut dikeringkan, misalnya melalui pengelolaan tata air yang tidak tepat, lapisan organiknya menjadi lebih mudah terbakar.

Api dapat bertahan di bawah permukaan tanah

Berbeda dengan kebakaran vegetasi yang umumnya terlihat di permukaan, api pada lahan gambut dapat menjalar ke lapisan bawah tanah. Bara yang tersisa di dalam gambut mungkin tidak terlihat dari luar, tetapi masih dapat memicu kebakaran kembali.

Fiqri Ardiansyah menjelaskan bahwa penyiraman yang hanya menjangkau permukaan belum tentu memadamkan seluruh sumber bara. Karena itu, petugas perlu memastikan air mencapai bagian gambut yang terbakar dan memeriksa kemungkinan munculnya kembali titik api.

Kondisi tersebut membuat pemadaman karhutla di kawasan gambut membutuhkan waktu, peralatan, air, dan metode yang sesuai dengan karakteristik kebakaran.

Tantangan Pemadaman Kebakaran Hutan di Kalimantan

Selain kondisi cuaca dan karakteristik lahan, sejumlah kendala teknis turut mempersulit pengendalian karhutla.

1. Lokasi Kebakaran Sulit Dijangkau

Sebagian titik kebakaran berada di kawasan yang akses jalannya terbatas. Petugas harus menghadapi medan yang sulit, sementara ketersediaan sumber air, personel, serta sarana pemadaman tidak selalu mencukupi.

Ketika api sudah meluas, kebutuhan sumber daya meningkat dan proses pemadaman menjadi semakin kompleks. Oleh karena itu, deteksi dini dan penanganan pada tahap awal sangat penting untuk mencegah kebakaran berkembang lebih besar.

2. Pemantauan Titik Api Perlu Diikuti Tindakan Cepat

Indonesia telah menggunakan berbagai sistem pemantauan, termasuk FIRMS, Sipongi, serta informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Teknologi tersebut membantu mengidentifikasi titik panas yang berpotensi berkaitan dengan kebakaran.

Namun, data titik panas perlu dianalisis berdasarkan tingkat keyakinan dan kondisi lapangan. Tidak setiap titik panas otomatis menunjukkan kebakaran aktif, sehingga verifikasi tetap diperlukan.

Pemantauan akan lebih efektif apabila informasi yang diperoleh segera ditindaklanjuti dengan pemeriksaan lokasi, pengiriman petugas, serta penentuan prioritas berdasarkan tingkat risiko.

Menjaga Gambut Tetap Basah sebagai Solusi Jangka Panjang

Laporan DW Indonesia menekankan bahwa penanganan karhutla tidak cukup dilakukan melalui pemadaman api. Pengelolaan gambut harus menjadi bagian penting dari strategi pencegahan agar kebakaran tidak terus berulang setiap musim kemarau.

1. Memperkuat Restorasi dan Tata Air Gambut

Salah satu pendekatan yang pernah diterapkan pemerintah adalah restorasi gambut melalui pembasahan kembali lahan, pembangunan sekat kanal, pemasangan sumur bor, dan pemantauan tinggi muka air tanah.

Langkah-langkah tersebut bertujuan mempertahankan kelembapan gambut agar tidak mudah terbakar. Namun, infrastruktur pembasahan memerlukan pemeliharaan rutin agar tetap berfungsi ketika musim kemarau tiba.

DW juga mengulas tantangan keberlanjutan program restorasi setelah berakhirnya Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) pada 2024, termasuk kebutuhan dukungan anggaran dan pendampingan bagi masyarakat di tingkat lokal.

2. Mengembangkan Metode Pemadaman yang Lebih Efektif

Pakar UGM menyebut sejumlah pendekatan yang terus dikembangkan, termasuk penyuntikan air ke dalam gambut serta penggunaan bahan untuk mendinginkan atau mengisolasi api. Metode tersebut memerlukan pengujian dan pengembangan lebih lanjut agar pemadaman dapat menjangkau sumber bara di bawah permukaan.

Mengapa pemadaman harus sampai ke sumber bara?

Api yang terlihat padam belum tentu menandakan kebakaran selesai. Petugas perlu memeriksa kondisi tanah, vegetasi, dan kemungkinan munculnya asap dari bawah permukaan.

Pemeriksaan berulang setelah pemadaman menjadi bagian penting untuk mencegah api menyala kembali, terutama ketika kondisi cuaca masih kering dan angin dapat membantu penyebaran api.

Masyarakat dan Pemerintah Perlu Bekerja Bersama

Pencegahan karhutla tidak dapat dibebankan hanya kepada petugas pemadam. Masyarakat, pemerintah daerah, pengelola lahan, dan berbagai lembaga perlu mengambil peran sesuai kewenangannya.

1. Memperkuat Peran Masyarakat Peduli Api

DW Indonesia menyoroti pengalaman kelompok Masyarakat Peduli Api di Kalimantan Barat yang terlibat dalam pelaporan titik api, pembasahan gambut, serta pemeliharaan sarana pencegahan kebakaran.

Keterlibatan masyarakat sangat penting karena warga setempat sering kali menjadi pihak pertama yang mengetahui munculnya asap atau kebakaran. Namun, relawan juga membutuhkan pelatihan, peralatan, biaya operasional, dan koordinasi yang jelas dengan instansi terkait.

2. Mendorong Pertanian yang Sesuai dengan Ekosistem Gambut

Pengelolaan lahan perlu mempertimbangkan karakteristik alami gambut. Pengeringan secara berlebihan untuk membuka lahan dapat meningkatkan risiko kebakaran sekaligus merusak fungsi ekologisnya.

Salah satu pendekatan yang dibahas dalam laporan DW adalah paludikultur, yaitu kegiatan budidaya pada lahan basah dengan memilih tanaman yang sesuai dengan kondisi tersebut.

Menyeimbangkan perlindungan lingkungan dan ekonomi warga

Pendekatan ini bertujuan menjaga lahan tetap basah sekaligus memberikan peluang ekonomi bagi masyarakat. Pelaksanaannya memerlukan penelitian mengenai jenis tanaman, pengolahan hasil, akses pasar, dan dukungan bagi petani agar perubahan praktik budidaya dapat berjalan berkelanjutan.

Dengan demikian, pencegahan kebakaran dapat dilakukan tanpa mengabaikan kebutuhan ekonomi masyarakat yang menggantungkan hidup pada lahan gambut.

Kesimpulan

Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan merupakan persoalan kompleks yang dipengaruhi oleh kemarau panjang, sumber penyulutan, kondisi vegetasi, serta karakteristik lahan gambut. Api yang menjalar ke bawah permukaan tanah membuat proses pemadaman lebih sulit dan meningkatkan risiko kebakaran berulang.

Pemberitaan UGM menegaskan pentingnya memahami penyebab kebakaran, meningkatkan efektivitas pemadaman, dan memperkuat koordinasi antarlembaga. Sementara itu, laporan DW Indonesia menyoroti perlunya restorasi gambut yang berkelanjutan, dukungan bagi masyarakat lokal, dan pengembangan sistem pertanian yang sesuai dengan ekosistem lahan basah.

Keberhasilan mengatasi karhutla tidak cukup diukur dari berapa banyak api yang berhasil dipadamkan. Upaya tersebut juga perlu dinilai dari kemampuan mencegah kebakaran baru, menjaga kelembapan gambut, melindungi keanekaragaman hayati, serta mempertahankan mata pencaharian masyarakat.

Dengan menggabungkan pencegahan, pemadaman yang efektif, pemulihan ekosistem, dan tata kelola lahan yang lebih baik, risiko kebakaran hutan di Kalimantan dapat ditekan secara lebih berkelanjutan.

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak