Dampak Asap Kebakaran Hutan bagi Kesehatan: Waspada Gangguan Pernapasan Akibat Karhutla di Kalimantan

sehato.id - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terjadi di Kalimantan pada Oktober 2026 kembali menjadi perhatian masyarakat. Selain menyebabkan kerusakan lingkungan dan mengancam habitat satwa liar, kebakaran juga menghasilkan kabut asap yang dapat membahayakan kesehatan manusia. Paparan asap dalam jangka pendek maupun panjang berpotensi menimbulkan berbagai gangguan, terutama pada sistem pernapasan.

Pemberitaan Detik pada 12 Oktober 2026 melaporkan bahwa karhutla masih terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan, termasuk Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Barat. Asap bahkan terbawa angin hingga memengaruhi kualitas udara di negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura.

Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa asap kebakaran hutan bukan sekadar persoalan lingkungan. Kandungan partikel berbahaya di dalamnya dapat mengganggu kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang yang memiliki penyakit pernapasan dan jantung.


Kondisi Karhutla di Kalimantan dan Ancaman Kabut Asap

Berdasarkan laporan Detik, Kementerian Kehutanan mencatat 793 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di Indonesia hingga 10 Oktober 2026 pukul 21.00 WIB. Kalimantan Tengah mencatat 288 titik, Kalimantan Barat 44 titik, dan Kalimantan Selatan 28 titik.

Kebakaran juga dilaporkan terjadi di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting dan sejumlah wilayah di Kotawaringin Barat. Upaya pemadaman menghadapi berbagai tantangan, mulai dari medan yang sulit dijangkau hingga keterbatasan sumber air akibat musim kemarau.

Sementara itu, di Kalimantan Timur, BPBD Balikpapan mencatat 127 kejadian kebakaran lahan sepanjang 2026 hingga 12 Oktober, dengan perkiraan luas lahan terbakar mencapai 81 hektare.

Dalam laporan 20Detik, kabut asap disebut masih menyelimuti sejumlah daerah di Kalimantan dan dampaknya meluas hingga ke luar negeri.

Situasi ini perlu mendapat perhatian karena kualitas udara yang memburuk dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, bahkan bagi orang yang tidak berada tepat di dekat lokasi kebakaran.

Apa Saja Dampak Asap Kebakaran Hutan bagi Kesehatan?

Asap kebakaran hutan merupakan campuran gas dan partikel yang dihasilkan dari pembakaran vegetasi, kayu, serta material organik lainnya. Salah satu komponen yang paling perlu diwaspadai adalah partikel halus PM2.5, yaitu partikel berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam paru-paru.

1. Iritasi Mata, Hidung, dan Tenggorokan

Dampak yang sering muncul setelah terpapar kabut asap adalah iritasi pada mata dan saluran pernapasan bagian atas.

Gejalanya dapat berupa mata merah, mata terasa perih, hidung berair, tenggorokan kering, serta batuk. Sebagian orang juga mengalami sakit kepala dan rasa tidak nyaman ketika menghirup udara yang tercemar.

Keluhan tersebut dapat muncul meskipun seseorang tidak berada dekat dengan titik api. Partikel dan gas dari kebakaran dapat terbawa angin hingga mencapai kawasan permukiman.

2. Memicu Gangguan Pernapasan

Partikel halus dalam asap dapat masuk ke saluran pernapasan dan memperburuk kondisi paru-paru. Paparan asap berpotensi menyebabkan batuk, sesak napas, napas berbunyi, serta iritasi saluran pernapasan.

Risikonya lebih besar pada penderita asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), dan penyakit pernapasan lainnya. Pada kelompok ini, paparan asap dapat memicu kekambuhan atau memperberat gejala yang sudah ada.

Jika paparan berlangsung terus-menerus, gangguan pernapasan dapat menjadi lebih serius. Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak mengabaikan gejala yang muncul selama kabut asap menyelimuti lingkungan.

3. Meningkatkan Risiko Gangguan Jantung dan Pembuluh Darah

Dampak asap kebakaran hutan tidak terbatas pada paru-paru. Partikel halus yang masuk ke dalam tubuh juga dapat memicu peradangan dan memengaruhi sistem kardiovaskular.

Pada orang yang rentan, paparan polusi udara dapat meningkatkan risiko gangguan jantung dan pembuluh darah, termasuk memperburuk penyakit jantung yang telah diderita sebelumnya.

Lansia dan orang dengan riwayat penyakit jantung perlu lebih berhati-hati ketika kualitas udara memburuk. Aktivitas fisik berat di luar ruangan sebaiknya dibatasi selama kondisi tersebut berlangsung.

4. Membahayakan Anak-Anak dan Ibu Hamil

Anak-anak termasuk kelompok rentan karena sistem pernapasannya masih berkembang dan mereka menghirup lebih banyak udara dibandingkan ukuran tubuhnya saat beraktivitas.

Paparan asap dapat menyebabkan batuk, iritasi, dan memperburuk asma. Sementara itu, paparan polusi udara selama kehamilan perlu diminimalkan karena berkaitan dengan peningkatan risiko sejumlah masalah kehamilan, termasuk kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah.

Ibu hamil sebaiknya mengurangi aktivitas di luar ruangan saat udara tercemar, terutama ketika kualitas udara berada pada kategori tidak sehat atau lebih buruk.

5. Menurunkan Kenyamanan dan Produktivitas Sehari-hari

Kabut asap juga dapat mengganggu aktivitas masyarakat. Mata yang perih, batuk, sakit kepala, dan tubuh yang terasa tidak nyaman dapat menghambat kegiatan belajar maupun bekerja.

Kualitas udara yang buruk turut membatasi aktivitas luar ruangan dan meningkatkan kebutuhan masyarakat untuk menjaga kesehatan. Oleh sebab itu, perlindungan dari paparan asap perlu menjadi perhatian bersama, terutama ketika karhutla berlangsung dalam waktu lama.

Bagaimana Cara Melindungi Diri dari Kabut Asap Karhutla?

Mengurangi paparan asap merupakan langkah penting untuk mencegah gangguan kesehatan. Berikut beberapa tindakan yang dapat dilakukan masyarakat.

1. Pantau Kualitas Udara Secara Berkala

Periksa informasi kualitas udara melalui sumber resmi dan layanan pemantauan yang tepercaya. Ketika kualitas udara memburuk, kurangi aktivitas di luar ruangan, terutama olahraga atau pekerjaan fisik berat.

Jika aktivitas luar ruangan tidak dapat dihindari, usahakan untuk mengurangi durasi paparan.

2. Gunakan Masker yang Sesuai

Masker respirator seperti N95 atau KN95 yang terpasang dengan baik dapat membantu menyaring partikel halus dari asap. Namun, efektivitasnya bergantung pada kualitas masker dan kerapatan pemasangan.

Masker kain atau masker bedah tidak memberikan perlindungan setara terhadap partikel halus. Masker respirator juga tidak melindungi dari seluruh gas berbahaya dalam asap.

3. Jaga Kualitas Udara di Dalam Rumah

Tutup pintu dan jendela ketika asap masuk ke lingkungan permukiman. Jika tersedia, gunakan pembersih udara dengan filter HEPA untuk membantu mengurangi partikel di dalam ruangan.

Hindari aktivitas yang menambah polusi dalam ruangan, seperti membakar sampah, merokok, atau menyalakan sumber asap lainnya.

4. Kenali Gejala yang Membutuhkan Pertolongan Medis

Segera cari pertolongan medis apabila mengalami sesak napas berat, nyeri dada, kebingungan, atau bibir membiru. Gejala tersebut dapat menandakan kondisi serius yang membutuhkan penanganan segera.

Orang dengan asma atau penyakit jantung sebaiknya mengikuti rencana pengobatan dari dokter dan mencari bantuan jika gejalanya memburuk.

Kesimpulan

Karhutla di Kalimantan pada Oktober 2026 menunjukkan bahwa dampak kebakaran hutan tidak berhenti pada kerusakan lingkungan. Kabut asap dapat menyebar jauh dari lokasi kebakaran dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan bagi masyarakat.

Mulai dari iritasi mata hingga gangguan pernapasan dan kardiovaskular, dampak paparan asap perlu diantisipasi dengan langkah perlindungan yang tepat. Memantau kualitas udara, mengurangi aktivitas di luar ruangan, menggunakan masker respirator yang sesuai, dan menjaga udara di dalam rumah merupakan langkah penting untuk mengurangi risiko.

Di tengah karhutla yang masih berlangsung, menjaga kesehatan masyarakat harus berjalan seiring dengan upaya pemadaman dan pencegahan kebakaran. Semakin cepat paparan asap dikurangi, semakin besar peluang untuk melindungi kelompok rentan dari dampak buruk polusi udara.

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak